persahabatan2
“Orang-orang yang besar rela dikorbankan di jalan Allah yang Mahabesar, karena mereka telah menjual dirinya secara tunai dan menerima pembayaran arwahnya di majlis transaksi atas dasar perjanjian.”
(Dr. Aidh Al-Qarni)

Bermula dengan basmalah

Sahabat…
Masih jelas dalam ingatanku. Di suatu sore, kita berbincang tentang kampung kita. Bercerita tentang episode kehidupan kita. Ya, sekedar perbincangan ringan menunggu senja tiba.
Waktu itu, nuansa religius yang mulai menggeliat membuat kita sedikit tersenyum, setelah sebelumnya kita sempat bersedih, mengingat budaya westernisasi yang lebih dahulu menyapa tanah kelahiran kita. Tapi sedikitpun tak kulihat keluh kesah di wajahmu. Aku tahu persis, itu tidak ada dalam kamus kehidupanmu. Sesuatu yang kadang membuatku harus belajar lebih banyak darimu.

Sahabat…
Dulu kita sepakat, hidup ini adalah perjuangan. Dan perjuangan tidak akan pernah lepas dari pengorbanan. Korban materi, fisik bahkan perasaan. Kau pun bercerita betapa susahnya berdakwah dengan orang-orang terdekat. Perasaan kadang turut bermain. Tapi, lagi-lagi tak terlihat keluh kesah di wajahmu. “Toh, yang di tuntut adalah berbuat. (lagi…)

Usai sudah perjuangan Timnas Sepakbola Indonesia di Piala Asia 2007. Ya, dengan berat hati kita harus say goodbye sebelum pagelaran empat tahunan sepak bola negara-negara Asia itu benar-benar kelar. Tidak ada lagi aksi individu memukau dari Elie Aiboy. Tidak ada lagi selebrasi kegembiraan penuh bahagia setelah mencetak gol dari Bambang Pamungkas. Bahkan untuk sekedar menikmati hiruk pikuk dukungan suporter pun hanya tinggal kenangan. Sejarah lama kembali terulang. Kita harus merelakan tim Merah Putih tersingkir di babak penyisihan.

Memang tidak mudah menerima kekalahan. Terlebih ketika itu terjadi di depan mata. Rasa sesak, sedih bahkan kesal mungkin masih tersisa. Harapan yang sempat membuncah setelah mengalahkan Bahrain di partai perdana pun terkikis setelah di kalahkan Arab Saudi dan Korea Selatan di partai berikutnya. Namun tetap saja ada banyak hikmah di balik kekalahan itu. Puluhan ribu suporter yang memadati stadion Gelora Bung Karno tiap kali timnas Indonesia berlaga seakan menjadi kebanggaan tersendiri, disaat salah satu tuan rumah lainnya malah minim penonton ketika timnasnya bertanding.
(lagi…)

limas Waktu itu, penghujung musim panas 2001. Seperti biasa setiap tahun perhelatan akbar sepak bola di Negara-negara Eropa kembali di gelar. Bursa taruhan kembali ramai. Italia salah satunya. Tak beda dengan tahun-tahun sebelumnya, bursa taruhan masih menempatkan tim-tim langganan juara semisal Juventus serta dua tim dari kota ‘Mode’ AC Milan dan Inter Milan di unggulan teratas. Dengan di dukung dana yang berlimpah dan pemain-pemain yang berkualitas, rasanya tak ada yang meragukan bahwa gelar juara akan kembali di raih oleh salah satu dari mereka. Bagi klub lain, menjadi sebuah ‘keberkahan’ ketika bertemu dan berhasil mengalahkan salah satu dari tiga klub dengan peraih scudetto terbanyak itu. Bahkan sekedar untuk menikmati capolista satu pekan pun menjadi sebuah prestasi tersendiri.

(lagi…)

pecah-telok7Bismillah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebagai pembukaan kudoake mogo bloggers wongkito sehat galo. Yakin be, doaku tulus. Nian.

Sebenarnyo lah lamo kenal dengan wongkito nich. Tapi baru serius nian men lah chatingan dengan rj_iblis (begitu beliau nak dipanggil). Jadi kuusahake nian data yang kutules ni benar-benar update.

Terlahir dengan gender male dan namo kecik Cakok Wen. Tapi genti zaman, genti pulo panggilan. Tapi sederhananyo cak itulah. Dulu nian, pas masih jiwo mudo di pesantren ado yang manggil Cak Win (ini terabadikan sampai mak ni hari), Del Piero pernah jugo (asal usolnyo pas aku nyetak gol tendangan bebas main bola). Ndek tak lemak di dengar, pernah jugo diseru kiai komplit (dak lemaknyo langsung tekenang jamu komplit). Kalu di Ijasah dari SD sampai bekkoari tetules agak panjang dikit >>>> Windo Putra Wijaya.

(lagi…)