
“Orang-orang yang besar rela dikorbankan di jalan Allah yang Mahabesar, karena mereka telah menjual dirinya secara tunai dan menerima pembayaran arwahnya di majlis transaksi atas dasar perjanjian.”
(Dr. Aidh Al-Qarni)
Bermula dengan basmalah
Sahabat…
Masih jelas dalam ingatanku. Di suatu sore, kita berbincang tentang kampung kita. Bercerita tentang episode kehidupan kita. Ya, sekedar perbincangan ringan menunggu senja tiba.
Waktu itu, nuansa religius yang mulai menggeliat membuat kita sedikit tersenyum, setelah sebelumnya kita sempat bersedih, mengingat budaya westernisasi yang lebih dahulu menyapa tanah kelahiran kita. Tapi sedikitpun tak kulihat keluh kesah di wajahmu. Aku tahu persis, itu tidak ada dalam kamus kehidupanmu. Sesuatu yang kadang membuatku harus belajar lebih banyak darimu.
Sahabat…
Dulu kita sepakat, hidup ini adalah perjuangan. Dan perjuangan tidak akan pernah lepas dari pengorbanan. Korban materi, fisik bahkan perasaan. Kau pun bercerita betapa susahnya berdakwah dengan orang-orang terdekat. Perasaan kadang turut bermain. Tapi, lagi-lagi tak terlihat keluh kesah di wajahmu. “Toh, yang di tuntut adalah berbuat. (lagi…)



