Langsung ke isi

Risalah from KL [3]: Marhaban (Part III; The End)

November 5, 2011

Bismillah…

Ini tulisan terakhir dari tiga rangkaian Risalah From KL dengan judul ‘marhaban.’ Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan terkait penerbangan, bandara dan hal ihwal bila kita melakukan penerbangan perdana ke Kuala Lumpur. Tapi semoga, hal lain itu bisa aku sisipkan di rangkaian tulisan Risalah from KL berikutnya. Karena banyak sekali kejadian-kejadian waiting list untuk dituliskan.

Di Kuala Lumpur, ada 2 bandara masyhur yang di kenal. Pertama, Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA). Yang kedua Low Cost Carrier Terminal (LCCT). Ada perbedaan mendasar diantara keduanya. LCCT, sudah mafhum bagi orang yang sering bolak-balik di bandara ini, bahwa ia adalah bandara khusus untuk parkirnya pesawat Air Asia. Oleh karenanya, dua kali perjalananku ke Kuala Lumpur, selalu saja ke sini. Karena kedua penerbanganku itu semuanya memakai servicenya Air Asia. Namanya juga Low Cost Carrier Terminal atau airport murah, tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan airport yang kusebut pertama, KLIA. Aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki di KLIA, namun dari informasi yang dapat kita temukan dengan sangat mudah di internet, airport ini sungguh sangat mewahnya. Para sahabat yang pernah tahu tentang airport ini, bahkan sudah pernah mendaratkan kakinya disana, bolehlah berbagi cerita….

Lain itu, yang kutahu, KLIA adalah bandara komersial bila dibandingkan misalnya dengan LCCT yang secara khusus sebagai airportnya Air Asia saja. Bila kita ke Kuala Lumpur naek pesawat Garuda, Lion Air atau juga yang lainnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa pesawat-pesawat itu tidak akan mendarat di LCCT, tapi KLIA.

Secara pribadi, aku tidak terlalu mempermasalahkan di mana pesawat bakal mendarat. Selain tentu saja, seperti yang pernah ku bilang, bahwa tiket Air Asia jauh lebih terjangkau bagiku dibanding maskapai yang lainnya. Lain itu, sejak awal 2011, setelah sempat terputus hampir satu tahun lebih, Air Asia kembali membuka rute langsung Kuala Lumpur – Palembang dan sebaliknya. Bagiku yang asli Palembang, tentu saja ini sangat membantu. Tidak perlu susah payah berangkat ke Jakarta terlebih dahulu, untuk kemudian berangkat ke Kuala Lumpur. Tinggal menyetir mobil lebih kurang 15 menit dari rumah, maka sampailah sudah di Bandara Sultan Mahmud Badaraddin II yang akan menghantarkanku ke Negeri Jiran itu.

Setibanya di LCCT, setelah kita turun dari pesawat, kita akan dihantarkan dulu ke ruangan imigrasi. Disana kita akan diperiksa dokumen perlengkapan (Pasport, tujuan kedatangan, etc.). Kepergian kedua ku kali ini, tentu saja statusnya sebagai pelancong, dengan niat menemani isteri yang secara resmi telah diterima di salah satu universitas di Malaysia. Tak terlalu banyak kendala yang dihadapi di imigrasi, Alhamdulillah. Namun antrinya, Subhanallah. Berbaris lebih kurang 10 putaran meliuk yang dari awal masuk antrian sampai menghantarkanku ke jendela pemeriksaan memakan waktu sampai 2 jam. Bisa jadi, karena sedang arus balik lebaran. Entahlah kalau di hari yang lain…

Setelah mengambil bagasi, sebelum pintu keluar terakhir, ternyata masih ada satu pemeriksaan lagi. Waktu itu, isteriku tidak sadar bahwa ia dipanggil. Aku yang berjalan belakangan, dengan sedikit memekik, memberitahu bahwa kita disuruh menghadap. Kulihat beberapa penumpang lain lewat saja. Cepat aku berpikir, pasti ada yang ingin diperiksa. Kulihat barang bawaanku. Dari 2 koper, 1 tas besar dan 2 kardus yang kubawa, ternyata petugas meminta kami untuk membuka bagian kardus. Kulihat, beberapa penumpang mengalami kejadian yang sama. Sebelum di buka, ditanya terlebih dahulu apa isinya sembari menunjuk satu kardus yang lebih kecil. Aku menjawab, “isinya pakaian.”

“Buka!” perintahnya. Sempat kujelaskan lebih rinci tentang isinya, tapi petugas ngotot untuk minta dibuka. Bukan apa-apa, kardus itu sudah kukasih lakban berlapis-lapis berikut ikatan tali nilonnya. Dibuka, dan betulan isinya pakaian. Sembari dia periksa, aku bantu menjelaskan bahwa kedatanganku dan istri ke Malaysia adalah dalam rangka study. Dengan cepat, aku tahu, bahwa pemeriksaan terakhir ini adalah untuk memastikan bahwa barang yang dibawa dari Indonesia bukanlah barang yang akan di jual lagi di Malaysia. Bila itu ada, tentu saja mereka rugi, karena tidak pakai bea cukai. Sambil terus memeriksa, dengan ramah, petugas muda berjilbab itu bertanya-tanya tentang rencana studi kami. Di tengah percakapan, sempat kudengar teriakan sambil jalan dari petugas lelaki yang agak tua, “itu pakai bea cukai,” saat ditemukan sekitar 2 helai baju baru. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, pun begitu juga dengan petugas berjilbab yang memeriksa, karena dia telah ku kasih tahu, bahwa 2 baju itu untuk kupakai sendiri, bukan untuk dijual lagi. Emang tukang kredit (edisi ingat Umak, beli barang untuk jual lagi :) )

Setelah kardus berisi pakaian itu selesai diperiksa, petugas mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan. Dalam hati aku mengucap banyak syukur, karena kardus satunya yang jauh lebih besar, tidak diperiksa. Bukan apa-apa, isinya memang bukan barang jualan. Tapi satu kardus itu full berisi tupperware kesayangan istriku. Semuanya baru-baru, lengkap dengan bungkus-bungkus plastiknya. Sebagian besar hadiah kenang-kenangan dari Ibu-ibu DPW Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) Kuala Kencana, Papua (terimakasih ya :) ). Bila itu dibuka, tentu aku butuh waktu dan banyak cara untuk berhasil meyakinkan petugas. Itu pun bila mereka percaya, karena nanti tupperware yang baru-baru itu, lengkap dengan segala bungkus plastik dan berbagai ukurannya, akan menguatkan ini adalah barang baru, barangnya banyak, bisa jadi untuk dijual. Semuanya bantuan Allah, insya Allah. Karena tadi sudah capek antri imigrasi, jadi tidak disuruh capek berikutnya, wa Alhamdulillah (bab Husnudzhon dengan Sang Khalik :) )

Oh ya, terakhir, saya tidak menyarankan Anda untuk menukar uang di money changer bandara dalam jumlah banyak. Karena nilai tukarnya lebih mahal di banding kita tukar di luar bandara. Tukar saja seperlunya, sekiranya Anda perlu makan di bandara, atau sekedar membeli kartu perdana setempat untuk handphone Anda.

Marhaban fi Kuala Lumpur…..

Pantai Hillpark, Kuala Lumpur, Sabtu 17 September 2011 Pkl 11.45 PM.

Risalah from KL [2]: Marhaban (Part II)

November 5, 2011

Bismillah…

Tulisan ini adalah lanjutan. Oh ya, kusampaikan di tulisan sebelumnya, bahwa sejak awal tahun 2011 ini tadi, telah dihapuskan biaya viscall untuk semua tujuan ke luar negeri. Tinggal mikirkan visanya saja. Dan untuk kawasan Asia Tenggara, visa kunjungan pun tak dipungut biaya sepersepun. Jadi tak heran, bila kita banyak menemukan orang Indonesia pergi ke Singapura sekedar untuk berbelanja. Lepas itu, pulang kembali ke Indonesia. Bahkan terakhir pernah kubaca, saat beberapa film hollywood di cekal di bioskop Indonesia, beberapa agen perjalanan, membuat program paket penerbangan ke Singapura hanya untuk menonton film di bioskop. Ya, menonton. Sebaliknya juga begitu, salah seorang saudaraku di Bandung mengabarkan, tiap akhir pekan, banyak Pak Cik dan Mak Cik yang terlihat shopping di beberapa toko terkenal di sana.

Saat libur kompetisi sepakbola Juni-Juli yang lalu pun sama. Beberapa penggemar fanatik dari Indonesia, yang kebetulan tim kesayangannya mengadakan tour pra musim ke Negeri Jiran Malaysia, tinggal menyisihkan uang untuk tiket pesawat, sampai sudah mereka di Kuala Lumpur.

Banyak sekali alternatif penerbangan ke Kuala Lumpur. Aku yang mahasiswa, tentu saja sangat pilih-pilih dalam hal ini. Dan untuk saat ini, pilihan itu mengerucut ke penerbangan mana yang paling murah biayanya :)

Dua kali perjalananku ke Kuala Lumpur, dua-duanya via Air Asia. Hemat, fasilitas tidak mengecewakan. Yang perlu di perhatikan, untuk mendapatkan harga yang relatif murah, kita dapat memesan jauh-jauh hari untuk waktu penerbangan yang telah kita pastikan. Ya, 2-3 bulan sebelum perencanaan terbang lah. Akan banyak penawaran promo price yang menarik. Misal ketika tulisan ini dibuat, tertanggal 14/09/2011, bila aku ingin pulang kampung, sekedar menengok orang tua di tiga bulan kedepan, 15/12/2011, maka harga untuk destination Kuala Lumpur-Palembang tertera adalah 94.00 MYR atau Rp 270.156,00 (kurs 1 MYR=Rp 2.874,00). Masih bisa dijangkau kan? Harga akan sangat cepat berubah, seiring semakin dekatnya dengan hari penerbangan. Terlambat, bisa menyebabkan harga akan naik dari yang kita lihat sebelumnya. Disamping itu, seperti yang kutulis sebelumnya, perkiraan bagasi yang akan kita bawa mesti juga diperhatikan. Untuk lebih jelas terkait Air Asia, sahabat bisa melihat ke webnya disini, www.airasia.com

Ada satu cerita lagi yang belum sempat kuceritakan di bagian pertama yang lalu. Layaknya penerbangan-penerbangan lainnya, biasanya untuk bawaan kabin, salah satu yang dilarang adalah membawa segala bentuk cairan yang lebih dari 100 ml. Apapun itu. Saat berangkat kemaren, persis dibelakangku, ada satu ibu yang mesti merelakan kotak kecil yang telah dibungkus rapi, untuk kemudian disita isinya, yang ternyata salah satunya adalah berisi cuka pempek. Kabar akhir, ibu ini mesti membayar lagi untuk biaya cuka itu. Mikir-mikir, dari pada makan pempek tak bercuka :)

Untukku, entah mesti mengucap apa. Karena barang yang over weight, ada satu kotak kecil, yang jelas-jelas tidak kubungkus, dan nampak kali kelihatan label salah satu toko pempek terkenal (dan isinya betulan pempek berikut cuka dengan bau yang cukup menyengat). Hanya diikat dengan sedikit tali sebagai pegangan, lolos dan tidak disita oleh petugas. Hanya mengucap syukur, wal hamdulillah. Niat pun pempek ini sebagai hadiah dan oleh-oleh untuk keluarga disana. Lain itu, dua botol madu yang masing-masing berukuran lebih dari 100 ml, sempat dikeluarkan dan mau disita oleh salah seorang petugas yang masih muda. Lagi-lagi dengan sedikit lobi dan beralasan untuk obat, madu itu pun terselamatkan dan dipersilahkan untuk dibawa setelah diizinkan oleh petugas yang lebih tua. Tanpa membayar sepeserpun. Kembali, wal hamdulillah.

Baiknya memang dan untuk amannya, saya sarankan, semua jenis cairan dibungkus rapi dan dimasukkan ke bagasi.

Continued….

Pantai Hillpark, Kuala Lumpur, Rabu 14 September 2011 Pkl 06.50 PM.

Risalah from KL [1]: Marhaban (Part I)

November 5, 2011

Bismillah. Ini the first note yang kugoreskan di tanah Malaysia. Senang sekali rasanya bisa kembali datang ke negeri ini. walhamdulillah, ala kulli hal.

Penerbangan kali ini agak sedikit berbeda dengan penerbanganku sebelumnya ke tempat yang sama. Tepatnya Januari 2011 yang lalu, aku mesti ke Jakarta terlebih dahulu, untuk bisa terbang ke Kuala Lumpur. Sekarang tidak perlu lagi jauh-jauh ke Ibukota, karena di Palembang sudah dibuka kembali untuk penerbangan ke Kuala Lumpur. Masih dengan maskapai yang sama, Air Asia. Pesawat yang sekilas mirip dengan Lion Air dari sisi interior pesawat. Warna merah yang mendominasi sangat kentara. Penerbangan Air Asia bagiku sangat pas. Murah. Meriah. Hari-hari biasa, dan dipesan sekitar 2 sampai 3 bulan sebelum keberangkatan, Palembang-Kuala Lumpur, harga tiket bisa kita beli di kisaran 300-400 ribu rupiah. Wau…, walau dekat, dengan jarak tempuh lebih kurang 1 jam 20 menit, harga seperti itu masih sangat murah untuk sebuah penerbangan internasional. Hanya perlu diingat, Air Asia tidak menyediakan bagasi langsung layaknya penerbangan lainnya. Tapi bila mau, kita bisa bayar tambahan untuk bagasinya. Lagi-lagi masih bisa dijangkau. Seperti aku, pesan bagasi 15 kg = Rp 110.000,-

Disini perlu kecermatan kita dalam perencanaan bagasi yang akan dibawa. Karena bila over weight, siap-siap saja membayar dengan jauh…jauh lebih mahal. Seperti kejadianku kemaren. Waktu pesan pertama kali, masing-masing bersama istri, kami pesan 15 kg. Total 30 kg. Perkiraan awalku dan belajar dari penerbangan pertamaku kesini, jumlah itu mencukupi. Tapi aku melupakan satu hal, bila penerbangan dulu dengan tujuan melancong, yang tentu saja tak terlalu banyak membawa barang, penerbangan kali ini tujuan belajar dan menetap untuk bilangan bulan, bahkan tahun. Barang yang dibawa jauh lebih banyak. Hasilnya pun kelihatan, barangku over weight sampai 10 kg. Dan per kg, di cash sebesar Rp 125.000,00. Sempat terpikir untuk mengurangi barang bawaan, tapi setelah dirasa, semuanya perlu dan penting, sudah bayar saja. So, pelajaran yang bisa diambil, cermatlah dalam memperkirakan bagasi, bila tidak mau membayar lebih banyak.

Tidak ada kesulitan berarti yang kutemui di Bandara SMB II. Imigrasi alhamdulillah dilalui dengan lancar. Sempat ketar ketir juga awalnya. Karena status keberangkatanku yang social visit, berbeda dengan isteri yang sudah membawa surat keterangan kuliah. Biasanya kita yang social visit (baca: melancong) selalu ditanya tiket kembali ke Palembangnya. Social visit ini hanya berlaku 30 hari. Mungkin, mereka khawatir bila tanpa tiket kembali yang jelas, kita akan terus menetap di Malaysia tanpa visa. Ilegal, lah. Tapi, kembali walhamdulillah. Dengan sedikit penjelasan dan diplomasi singkat, bahwa kepergianku ini untuk menemani isteri yang akan kuliah, semuanya berlalu dengan baik. Kesan yang bersahabat (senyum dan mengucap salam lewat lubang kecil di antara lebarnya kaca) yang coba kutampilkan memang terasa sangat membantu :)

Oh ya, perlu juga kusampaikan bagi yang belum mengetahui. Bahwa penerbangan kemanapun ke luar negeri, tidak diperlukan lagi pembayaran viscall. Juga tidak perlu ada NPWP untuk meraih bebas viscallnya. Per Januari 2011, oleh Dirjen Perpajakan RI semuanya telah dihapuskan. Untuk negera ASEAN, kita juga tidak dikenakan biaya visa kunjungan. So, bila ada yang mau melancong, rihlah, studi banding, honey moon dll ke Malaysia, Singapura dan negara ASEAN lainnya, cukup siapkan tiket dan paspor saja. Insya Allah bisa terbang.

Continued….

Pantai Hillpark, Kuala Lumpur Senin, 05 September 2011 Pkl 06.15 AM.

Furshah Dzahabiyyah: Happy Fasting

Agustus 29, 2011

Dikisahkan. Dalam sebuah hadits hasan. Ada tiga orang sahabat Rasulullah Saw.. Hidup bersama, berlomba dalam kebaikan dan ibadah. Suatu hari, datang panggilan untuk berjihad di jalan Allah Swt. Ketiga sahabat itu sepakat untuk memenuhi seruan mulia ini. Sampai Allah Swt. men-takdirkan dua diantara mereka meninggal dunia. Syahid dalam peperangan. Dan Allah pun men-takdirkan sahabat yang satu masih mendapatkan kesempatan hidup sampai beberapa tahun kemudian dan akhirnya meninggal tidak dalam keadaan syahid, namun terbaring di tempat tidurnya.

Setelah wafat yang ketiga, salah sahabat Rasul Saw. yang lain dan kebetulan juga teman dari tiga sahabat karib yang telah meninggal dunia itu, bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat sahabat yang wafat diatas kasur lebih dahulu masuk surga dari kedua temannya yang meninggal di medan perang. Tentu saja ia kaget. Saat terbangun, ia termenung, bertanya-tanya, kenapa orang yang wafat di atas kasur bisa lebih dulu masuk surga dari orang yang syahid fi sabillah. Padahal pahala syahid di medan perang sangat luar biasa.

Masih dengan penasaran yang membuncah, ia menceritakan mimpinya kepada Rasulullah Saw.

“Rasul, saya bermimpi tentang tiga orang sahabatku. Dua meninggal di medan perang dan yang satu lagi meninggal di atas kasur. Lalu saya melihat. ternyata yang meninggal di atas kasur, lebih dulu masuk surga di banding dua temanku yang syahid. Kenapa ya Rasulullah? Bukankah pahala meninggal di medan perang lebih besar dari selainnya? Bukannya menurut kita, semestinya dua sahabat yang gugur syahid ini lebih dahulu ke surga di banding sahabatku yang meninggal di atas kasur? Kenapa ya Rasulullah?”

“Betul,” Rasulullah Saw. menjawab. “Sungguh luar biasa pahala bagi yang syahid di jalan Allah. Tapi tahukah kamu kenapa yang satu masuk surga mendahului yang dua.”

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” ujar sang sahabat.

“Wahai sahabat, ketahuilah. Bukankah yang meninggal belakangan ini, dia masih bisa melakukan shalat-shalat yang tidak bisa dilakukan lagi oleh sahabat syahid yang telah mendahuluinya. Bukankah ia bahkan bertemu dengan Ramadan, beribadah di bulan suci itu. Shalat, puasa dan yang lainnya. Yang itu semua tidak ditemui oleh sahabatnya yang lebih dulu meninggal. Demi Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perbedaan serta jarak diantara dua keadaan sahabat itu sepertinya jauhnya antara langit dan bumi.”

Subhanallah…, kisah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan di hasan-kan oleh Imam Syu’aib al-Arnauthy ini seharusnya kembali mengingatkan kita. Bahwa pertemuan dengan bulan Ramadan adalah sebuah anugerah yang mesti di syukuri secara maksimal. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Yang hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Sungguh menjadi kebahagiaan di atas kebahagiaan, saat kita di izinkan kembali oleh Allah Swt. dapat beribadah di bulan Ramadan tahun ini. Menikmati indahnya puasa, senandung tilawah dalam halaqah-halaqah tadarus, syahdunya tarawih sembari mendengarkan tausiyah-tausiyah rabbaniyyah. Dan sangat celakah kita, bila tidak bisa mensyukuri dengan baik kesempatan berharga ini.

Ya, furshah dzahabiyyah, peluang emas. Saat dimana pahala ibadah kita dilipat gandakan oleh Allah Swt lebih dari bulan-bulan yang lainnya. Bulan dimana ruh kita melangit dengan khusyuknya.

Oleh karenanya, masih tersisa berapa hari lagi untuk sampai ke bulan Ramadan. Mari kita persiapkan diri kita sebaik-baiknya. Yang bersama keluarga, kumpulkan semua anggota keluarganya. Ajak bersama, untuk meng-agendakan kegiatan Ramadan keluarga. Dari tadaruskah itu, sedekah itu, dzikirkah itu dan yang lainnya. Yang bujangan? Tak masalah. Ada banyak teman insya Allah, yang akan bersama, berlomba-lomba untuk mengisi Ramadan ini dengan sebaik amal. Mari kita niatkan, semoga Ramadan ini adalah Ramadan terbaik selama hidup kita. Berharaplah, bila akhirnya Allah memanggil kita tahun ini, kita menghadap-Nya dengan pahala Ramadan terbaik.

“Allahumma barik lana fi Sya’ban wa ballighna Ramadan | Ya Allah berkahi kami di bulan Sya’ban dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” Amin.

Wallahul Musta’an.

Argentina, Brazil dan Sakaratul Maut

Agustus 29, 2011

Medio akhir Juni hingga awal Agustus tahun ini terlihat sepi bagi insan sepakbola Eropa. Tenggang waktu itu adalah masa dimana kebanyakan pesepakbola sedang berlibur.Tapi itu tak berlaku bagi para pesepakbola Amerika Latin. Tahun 2011 menjadi ajang edisi ke-43 untuk pagelaran Copa Amerika. Sepuluh negara yang tergabung dalam area Amerika Latin plus dua tim undangan, Meksiko dan Kosta Rika, menjadikan ajang ini ditunggu oleh para insan sepakbola di dunia.

Layaknya pagelaran yang sama di edisi-edisi sebelumnya, Argentina dan Brazil tetap menjadi unggulan teratas sebagai juara. Tradisi yang kuat dalam dunia sepakbola, ditambah pemain-pemain dengan skill terbaik menjadi alasan dua negara itu sebagai daya tarik kejuaraan. Lain itu pemain-pemain yang sedang ramai dibicarakan di dunia transfer, semisal Alexis Sanchez dari Chili dan Neymar Brazil serta yang lainnya seakan memaniskan ajang empat tahunan itu, sekaligus menjanjikan match-match yang menawan.

Lalu apa yang terjadi? Sampai tulisan ini dibuat, hasil-hasil pertandingan yang terlihat, memporak-porandakan prediksi hampir semua pengamat. Di dukung dengan pemain-pemain berkualitas di tiap lini, hanya mengantarkan Argentina hingga babak 8 besar. Berposisi sebagai tuan rumah, Tim Tango itu sudah tertatih-tatih bahkan sejak pertandingan awal grup. Bahkan pemain terbaik dunia 2009 & 2010, Lionel Messi, kembali mengulang kegagalan yang sama di Worl Cup Africa Selatan 2010, dengan tidak menceploskan satu gol pun.

Setali tiga uang, Brazil pun mengalami hal yang serupa. Tradisi juara yang mengakar tak terlihat baik di ajang ini. Walau sempat menang meyakinkan 4-2 dipertandingan akhir grup kontra Ekuador, kekalahan memalukan dari Paraguay di fase knock out dengan tidak mencetak satu gol pun dalam sesi adu penalti, membuat amnesia para penggemar bola bahwa tim yang di kapteni Lucio itu adalah juara dunia terbanyak lima kali dengan gaya permainan terkenal, Jogo Bonitonya.

Namun itulah Sepakbola. Hitung-hitungan di atas kertas sering kali berbeda dengan kenyataan. Perjuangan keras hingga detik terakhirlah yang akan menentukan hasil. Kemenangan atau kekalahan.

Pun begitu pula dengan kehidupan kita. Dalam bahasa luhur al-Quran, kehidupan dunia ini diibaratkan sebagai sebuah permainan. Ilustrasi indah itu terurai dalam satu kalam,

“Sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau.” (QS. Muhammad [47]: 36).

Ya, karena ini adalah sebuah permainan, kita tidak tahu apakah kita bisa meraih kemenangan atau kekalahan. Husnul khatimah atau su-ul khatimah. Persis seperti falsafah bahwa bola itu bulat, sangat susah ditebak hasil akhirnya. Sama seperti akhir kehidupan kita, yang baik dan buruknya juga masih rahasia Allah.

Sebagian dari kita, bisa jadi ada yang sangat bagus dalam memulai permainan. Beribadah di waktu muda, tapi tergelincir di masa tua. Lemah di detik-detik akhir hayat. Persis seperti Argentina dan Brazil, datang dengan modal yang cukup, namun gagal dalam permainan. Ada juga tim lemah, tapi malah menang, bak orang yang penuh maksiat lalu bertobat, kembali ke jalan Allah sampai akhir hayatnya.

Teringat sebuah doa;

“Allahummaj’al khaira ‘umrina akhirah, wa khaira a’malana khawatimah, wa khaira ayyamina yauma nalqaaka fih | Ya Allah, jadikan sebaik-baik umur kami di penghujungnya, dan sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, dan sebaik-baik hari, hari saat kami bertemu dengan-Mu.”

Oleh karenanya, berjuanglah dan istiqomahlah. Kita tidak tahu bagaimana akhir kehidupan kita. Masih misteri, dalam keadaan seperti apa kita menutup permainan ini, menjadi pemenang atau pecundang.

Maka belum terlambat untuk berbenah. Harapan itu masih ada. Permainan terus berlangsung. Selama peluit akhir saat sakaratul maut belum ditiup, selama itu pula kita masih berjuang. Saat hayat masih di kandung badan, Allah akan menanti kita untuk menjadi seorang pemenang. Ya, pemenang. Dan saat kemenangan itu tiba, terimalah hadiahnya. Bukan dengan tropi piala yang bisa hancur terlindas roda bis. Tapi panggilan syahdu nan menggetarkan:

“Wahai jiwa yang tenang. Kembali lah kepada Rabb-Mu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

Wallahul Musta’an.

Itsar dan El-Barca: Visca Azulgrana

Agustus 29, 2011

Beberapa hari yang lalu, Champion League Eropa edisi 2011 baru saja usai. Juaranya Barcelona. Persis seperti prediksi yang disampaikan hampir sebagian besar pengamat bola. Walau Manchester United, lawan mereka di final adalah tim yang tak kalah hebatnya, penampilan ciamik yang diperagakan sepanjang musim oleh juara Liga Spanyol itu membuat mereka diunggulkan sedikit diatas MU yang menutup Liga Inggris tahun ini juga sebagai juara.

Siapa pun, saya kira mesti mengakui kehebatan tim yang berjuluk Azulgrana itu. Permainan yang stabil hampir ditiap laga plus kerjasama apik dengan gaya bermain tiki-takanya memang benar-benar memukau. Semua lini hampir memainkan peranannya dengan baik. Melihat mereka bermain, menimbulkan rasa gembira bagi yang menyaksikannya.

Buah kerjasama. Sesuatu yang bisa kita ambil pelajaran dari perjalanan tim asal Catalan itu. Tak hanya itu, kerelaan beberapa pemain untuk mengisi pos permainan bukan di posisi idealnya, semisal Mascherano dan Busquest yang sempat menjajal posisi bek tengah saat Puyol dan Pique tak bisa bertanding, menjadi bukti keseimbangan tim yang mesti siap kapan dan dimanapun diturunkan. Dan yang paling mengharukan, tentu saja dipilihnya Eric Abidal sebagai pemain pertama yang menerima trofi piala dari Presiden UEFA, Michael Platini, yang semestinya diterima pertama kali oleh sang kapten tim, Carlos Puyol. Saat ditanya tentang hal itu, Pep Gurdiola, pelatih Barcelona mengatakan “Dia menderita kanker hati, dan sudah pasti saya bisa merasakan betapa menderitanya dia serta keluarga. Tapi semangat besarnya untuk cepat sembuh memberi inspirasi pada semua tim.”

Ya titah Gurdiola sebagai kepala tim. Kerelaan Puyol untuk mempersilahkan Abidal yang baru sembuh dan bermain ciamik di laga final menjadi bukti lain tentang kuatnya Barcelona sebagai tim yang utuh. Baik kerjasama tim dalam permainan maupun sebagai seorang teman yang memahami perasaan rekan-rekannya. Puyol bahkan mengakui bahwa Abidal adalah pemain terbaik malam itu setelah Messi dan Xavi Hernandez.

Sungguh, peran kerjasama dan keutuhan tim atau kelompok selalu menjadi salah satu faktor penting sebuah kesuksesan. Apalagi kita sebagai seorang muslim tentu mesti mengetahui itu. Nilai-nilai luhur yang dibarengi dengan kerelaan dan kebesaran hati berbagi kebahagiaan dan keutamaan dengan orang lain seringkali mengundang decak kagum bagi generasi setelahnya. Secara eksplisit, ternyata ajaran agama pun menuntun untuk itu. Teringat dengan sosok sebaik tauladan yang digambarkan dalam sebuah ayat:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin” [QS 09: 127]

Kita tentu ingat, bagaimana sejarah menceritakan tentang detik-detik akhir kehidupan Beliau, Nabi Muhammad Saw.. Saat-saat menegangkan itu beliau malah mengingat nasib para umatnya kelak.

Atau kerelaan para sahabat saat mendahulukan sahabat yang lain untuk meminum air ketika perang Tabuk. Keikhlasan Abu Bakar memberikan semua hartanya untuk jihad fi sabilillah. Lapang dadanya hati seorang sahabat yang menidurkan anak-anaknya dalam kelaparan, sedangkan ia berpura-pura makan dalam kegelapan demi tenangnya sang tamu yang sedang menyantap hidangan di rumahnya.

Ya, orang-orang yang disebutkan dalam al-Quran dengan istilah:

“Mereka itsar (mendahulukan) terhadap orang lain dibanding ke diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri kesusahan” [QS. 59: 09)

Dan sekarang, saat sifat elok itu perlahan mulai terkikis dari sebagian besar umat ini, mesti kita hadirkan kembali. Membumikan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama dalam kehidupan nyata mutlak diwujudkan. Bahkan sebuah tim sepakbola yang bisa jadi tak pernah mengenal perjalanan nabi dan para sahabat pun melakukan itu. Kita tentu lebih berhak untuk mencontohkan yang jauh lebih mulia. Kisah orang-orang shalih sebelum kita adalah sesuatu yang sangat layak untuk dijadikan tauladan. Dan tentu saja, hikmah pelajaran itsar yang tergambar dari perjalanan dan penyerahan trofi juara Barcelona turut menambah khazanah kita tentang indahnya itsar. Semoga. Visca, Azulgrana!

Wassalam

Orgen Tunggal, Rebana Apo Nasyidan, yo? (Surat Cinta II untuk Pedamaran Tercinta)

Agustus 29, 2011

Bismillah…
Apo kabar mensanak galo-galo? Semoga kito sehat terus. Amin.

Alhamdulillah pacak nyapa lagi, untuk edisi ketigo tulisan dalam baso kebangsaan kito, baso Pedamaran. :)

Edisi tulisan kali ko muncol dari permintaan khusus urang kito tula, ndek ado di perantauan, tentang bakmano hukum orgen tunggal dalam kacomato Islam atau musik sejenisnyo ndek ado di dusun kito.

Tak tahu ngapo bak beliau tu nuliska secaro khusus namoku disitu untuk minta pendapat. Raso-rasonyo, selamoko beliau termasuk urang ndek lah rutin merika pendapat beliau dalam banyak hal di rumah PPPN kito. Tapi tak apolah, kareno lah di pintak dan mumpung masih hangat, kareno aku jugo baru be dari be-orgen tunggal-an :)

Oh yo sebelum masuk ke tema, izinka aku nak nyapa dulu mensanak sebelah menyebelah dari keluargo Besejar. Keluargo ndek balek kaliko aku pacak teliak langsung urang-urangnyo, sekretariatnyo, kolam ikannyo. Hehe.

Tak tahulah, dari singkatan namo be, Besejar (betunggal samo sejajar), aku lah bangun hati (istilah lain dari jatuh hati). Apolagi, sempat ngobrol, walau baru dikit, dengan sebagian petinggi-petingginyo J. Untuk bekkoari, kito layak merika apresiasi dengan komunitas iko. Bak uji perbaso kancoku kola dang ituni, sederhano dalam sikap, kayo dalam karyo. Lebih banyak persembahan ke masyarakat dalam bentuk nyato dari pado cuma debat kusir tak keroan adok. Lain itu, betunggal samo sejajar itu filosofi agamo kito ndek sangat agung. Semoga niat baik senantiaso tejago dari awal, tengah sampai akhir. Salam besejar :)

Payo kito masuk ke tema…

Agar pembahasan iko agak menyeluruh, kutuliska secaro umum tentang nyanyian. Tak tebatas cuma apo ndek ado dan bekembang didusun kito. Kareno banyak jugo jenis musik di kito tu. Ples jugo ado berapo tipe caro urang behiburan dalam acaranyo. Paling tidak ndek kudapatka, misal dalam acara resepsi pernikahan, mandi kaek dan sejenisnyo, ado ndek hiburan (nyanyian) nyo pakai nasyid, ado rebanaan, ado ndek beorgen. Orgen ko pulo, ado ndek makai biduan, ado jugo ndek tak ado. ado jugo ndek kombinasi dari beberapo jenis musik. Ndek orgen jugo ado nyaratka tak jadi musik dengan nada remik, ado jugo ndek teserah. Intinyo, banyak lah…

Masalah nyanyian, baik dengan musik (orgen tunggal/nasyid/band, dll) maupun tanpa alat musik (syair, akapela, dll), sejauh ndek la kubaco, temasok masalah ndek didebatka oleh para kiai (fuqaha, red) kaum muslimin dari dulu. Kiai-kiai itu sepakat di beberapo hal dan takdo sepakat di beberapo hal ndek lain.

Kiai-kiai itu sepakat haramnyo nyanyian ndek ado unsur kekejian, kefasikan, atau ngajak urang mbuak maksiat, kareno hakikatnyo nyanyian itu baik kalu dio ngandung kato-kato ndek jugo baik, dan jadi tak bagus kalu misal jugo berisi dengan kato-kato ndek tak bagus. Kiai-kiai itu jugo sepakat bolehnyo nyanyian ndek baik di acara-acara gembira, cak resepsi pernikahan, waktu nyambut datangnyo urang dari pegi jaoh, dan di hari-hari besak lainnyo. Tentang iko banyak hadits ndek sahih jugo jelas.

Nah, sebagian kiai tu, ado ndek ngomong tak jadi nyanyian ndek pakai alat musik tapi molehka kalu takdo makai musik. Ada pula ndek melarangnyo nian, mutlak, bahkan menganggapnyo haram (baik nyanyi itu bemusik atau takdo). Pun ado jugo ndek molehka, baik itu pakai alat musik atau takdo.

Dari siko, pribadi aku meliak, hukum nyanyian iko balek ke kaedah ‘asal dari segalo hal itu halal sampai ado dalil ndek mengharamkenyo.’ Kalu jugo ado dalil ndek mengharamka nyanyian, ado kalonyo dalil itu shoreh (jelas) tapi tak shoheh atau shoheh tapi tak shoreh. Tapi agar kito tak bedebat kusir (aku paling tak ser, apolagi men cuma sebatas ngomong taknaro tindak nyato), permasalahan iko adalah masalah khilafiyah (ndek didebatka) oleh kiai-kiai kito dari awal. Jadi jangan meraso paling benar, jangan saling salahka. Jangan sampai tekeluar kato-kato tak bagus (rofast), merendahka urang, apolagi sampai ngundang urang untuk bekato ndek tak bagus jugo. Tentang perkatoan tak bagus (rofast), dalilnyo shorih dan shahih, tak didebatka (bukan khilafiyah). Dalam masalah khilafiah, silahkan kito milui pendapat mano ndek nak kito milui.

Catatan akhir, bahwa dalam segalo sesuatu, temasuk hal-hal yang sifatnyo baek, kito dilarang belebihan. Temasuk jugo dalam hal hiburan iko. Hemat pribadi:

1. Sebiso mungkin ngindarka hal-hal ndek bemambu maksiat di lingkaran acara kito, temasuk misalnyo, bejudi malam-malam nunggu barang, nyago kawah, dll J.

2. Pribadi aku lebih senang misal kalu siapo nak orgenan itu takdo makai biduan, kareno hukum mayoritas, biduan ndek ado selamoko lebih banyak mudharatnyo. Kecuali men pacak ngaderka ndek bebeda (lebih bermoral) dengan ndek sudah ado. Aku laju tekenang dengan ucapan mat lebohku, jilbabi be, Kok men maseh tak jadi bebiduan. Hehe. (Sampaika dikit, tentang wanita dalam nyanyian, lagi lagi disitu ado khilaf, ado ndek molehka, ado ndek takdo, akupun lebih cenderung ke hukum asal kito diatas)

3. Temasuk hal ndek tak belebihan menurutku (kalu beda dengan aku, lagi-lagi silahkan), acara hiburan musik ko cukup disiang hari, tanpa malamnyo. J

4. Jangan dilupoka jugo bahwa menata niat sebaik-baiknyo dalam lingkup acara kito mulai dari awal sampai akhir, ples bahwa ndek perlu kito sadari dan yakini, acara kito di dusun tu, pacak telaksano salah satunyo kareno adat kito masih bagus dalam tolong menolong, urang peleboan, mensanak sebelah menyebelah, mulai dari awal acara sampai sudah. Aspek sosial iko jangan dilupoka agar jangan sampai meniadakan sedikit kegembiraan mereka untuk sedikit ‘beladas’ di hari bahagia kito. Asak tak belebihan. Bakmano, akor?

Wallahu A’lam….
Cakok Wen.

Ziyarah Kampung: Boleh, Kok! (Surat Cinta I untuk Pedamaran Tercinta)

Agustus 29, 2011

Bismillah. Mudah-mudahan dapat berbagi secara ringkas, dan tepat sasaran.

Tentang fenomena ziyarah ke Kampung (puyang) merupakan tradisi klasik masyarakat Pedamaran. Mayoritas masyarakat kito pacak dengan lokasi kuburan yang berjarak tempuh lebih kurang 1 jam dari Pedamaran itu. Pribadi, mengenal Kampung ini sejak kecik, biasonyo dulu neman diajak ke Kampung ko saat hari rayo. Dang ituni, taknaro kesan yang didapat selain raso senang, kareno yang telintas kalu nak ke Kampung tu adalah jalan-jalan, makan-makan dan maen-maen. Namonyo jugo maseh kecik :)

Lain itu, kesan yang masih membekas sampai bekkoari, waktu ngancoi salah seorang peleboan ndek ngajak marak-i kuburan yang ado disitu. Waktu itu, dang teparak dengan kuburan, mat lebo itu langsung ngambek kayu ndek disiapka di samping kuburan. Lalu mentangka tangan kanan dan kirinya lalu menyesuaikan panjang kayu dengan panjang tangannyo ndek dibentangka. Bila panjang kayu dengan panjang tangan sejajar, berarti hajat yang nak dipinta pacak tekabul. Lagi-lagi dang itu ni, cuma pacak meliak. Tak ngerti. Namonyo jugo masih kecik :)

Nah, sekarang, katokanlah setelah melewati beberapo fase pendewasaan, pacak meliat dengan pandangan lebih bijak tentang fenomena Kampung ini, lebih runutnyo, mungkin lemak dipoinkan:

1. Bahwa ziyarah kubur adalah ritual yang dizinkan dalam syariat (Islam) selamo terhindar dari hal-hal yang menjurus kepada kemusyrikan. Dalam kondisi tertentu, ziyarah kubur ini dianjurkan karena berlimpah hikmah. Selain tentu bae, mendoakan orang yang lebih dulu ninggal, ziyarah kubur jugo sebagi tadzkiroh (pengingat) bagi yang masih hidup, bahwa kelak jugo akan samo cak itu. Harapannyo, pacak berimbas dengan kelakuannyo yang jadi baik dari hari ke hari.

2. Fenomena ziyarah kampung (pribadi lupo kapan terakhir kesano, yang jelas sudah sangat lamo) memang lebih banyak khurafat dan kemusyrikannyo. Mulai dari ngukur kayu, makar kemenyan sambil nyampaikan hajatnyo, atau apapun namonyo, selamo itu meminta dengan selain Allah, lebih-lebih dengan media kuburan, dalam syariat, sudah pacak dihukumi sebagai sebuah kemusyrikan. Oleh kareno nyo hal tersebut mesti dan wajib dihindari.

3. Sebagai pengingat untuk galo-galo, dosa kemusyrikan cak iko termasuk dosa besar bahkan terbesar. Kareno dengan tegas, duo kali diulang dalam Quran, pernyataan langsung dari Allah tentang doso musyrik yang tak terampuni bila pelakunya tak menyesali (taubat).

4. Jadi paling tidak, dengan pacaknyo kito dengan hukum ini, kito pacak menghindarkan diri kito, keluargo kito dan urang-urang disekitar kito, agar klaginyo jadi semacam pemahaman menyeluruh masyarakat Pedamaran bahwa hal tersebut dilarang dalam agamo.

5. Bagi kito yang mungkin selamo ini pernah temilu dalam ritual-ritual disano, selamo kito menyesali dan taubat serta balek meluruskan keyakinan bahwa sesuatu (baik dan buruk) itu datang sesuai dengan ketentuan Allah, apo ndek la telewati tu akan diampuni-Nyo (Allah).

6. Pribadi sorang, insya Allah dalam tiap kesempatan mudik selalu berusaha semampunyo untuk menjelaskan masalah ini, baik lewat majlis ta’lim, atau jugo pertemuan2 lainnyo…

7. Jadi ziyarah kuburan boleh, temasuk ke Kampung. Dengan syarat tanpa adonyo ritual-ritual kemusyrikan. Wallahu A’lam.

8. Poin terakhir ko mungkin pertanyoan, kalu ado senior-senior ndek pacak dengan riwayat kuburan Kampung (Siapo beliau yang dikuburkan disano, bagus sekali kalu tahu sejak kapan tradisi ke-Kampung itu dimulai)

Itu be dulu, silahkan kalu ado yang nak nambah-nambahi. Dan betul apo yang disampaikan oleh Kando Barap Yudi, ado banyak fenomena di dusun kito ndek perlu dapat perhatian dari kito galo-galo. Terutamo yang paling urgen dan sangat mendesak, fenomena banyaknyo bujang gadis dusun bekkoari. Pembinaan generasi mudo iko akan sangat mempengaruhi wajah Pedamaran tercinta kito kedepannyo. Tradisi perjudian, mabuk jugo narkoba akan jadi permasalahan serius kalu tak ditanggapi sejak awal. Pemangku kebijakan (pejabat), tokoh masyarakat dan adat, pemuka agama, dan masyarakat keseluruhan mesti satu suaro. Akan sangat susah kalu salah satunyo be tak mendukung. Namun harapan dan doa insya Allah tetap ado. Dan paling tidak, mulak-i dari apo ndek kito pacak dulu.

Demikan dulu. Senang pacak bebagi, walau dari jauh. Gerakan bersamo, untuk Pedamaran kito yang tercinto.

Wassalam
Cakok Wen.

10 Wasiat Hasan al Banna

Agustus 29, 2011

Sekedar kontemplasi ringan, untuk jiwa yang senantiasa rentan dengan dunia yang menggiurkan…

10 Wasiat Imam Syahid Hasan al Banna:

1.Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

2.baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya

3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4.Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.

5.Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.

6.Jangan suka bergurau, karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh- sungguh terus menerus.

7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

8. Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.

9. Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).

10. Pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.

Wallahul Muwafiq.
Cak Win

Bijak dalam Menatap [Cak Win: Serial Kontemplasi Ringkas]

Agustus 29, 2011

Memandang dengan bijak, menatap dengan hikmah. Sungguh, kita ini hanyalah kumpulan pribadi-pribadi penuh aib yang ditutupi oleh Allah Swt. Mari menjaga hati, telinga, mata dan lisan kita dari perkara yang kita tidak tahu tentangnya.

Dalam hal ini, serius!!! Diam itu betulan emas.

Refleksi singkat untuk banyaknya kabar simpang siur tentang hiruk pikuk duniawi.

Kuala Kencana, Rabu 09 Jumadil Ula 1431 H/13 April 2011
Cak Win

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.