Argentina, Brazil dan Sakaratul Maut
Medio akhir Juni hingga awal Agustus tahun ini terlihat sepi bagi insan sepakbola Eropa. Tenggang waktu itu adalah masa dimana kebanyakan pesepakbola sedang berlibur.Tapi itu tak berlaku bagi para pesepakbola Amerika Latin. Tahun 2011 menjadi ajang edisi ke-43 untuk pagelaran Copa Amerika. Sepuluh negara yang tergabung dalam area Amerika Latin plus dua tim undangan, Meksiko dan Kosta Rika, menjadikan ajang ini ditunggu oleh para insan sepakbola di dunia.
Layaknya pagelaran yang sama di edisi-edisi sebelumnya, Argentina dan Brazil tetap menjadi unggulan teratas sebagai juara. Tradisi yang kuat dalam dunia sepakbola, ditambah pemain-pemain dengan skill terbaik menjadi alasan dua negara itu sebagai daya tarik kejuaraan. Lain itu pemain-pemain yang sedang ramai dibicarakan di dunia transfer, semisal Alexis Sanchez dari Chili dan Neymar Brazil serta yang lainnya seakan memaniskan ajang empat tahunan itu, sekaligus menjanjikan match-match yang menawan.
Lalu apa yang terjadi? Sampai tulisan ini dibuat, hasil-hasil pertandingan yang terlihat, memporak-porandakan prediksi hampir semua pengamat. Di dukung dengan pemain-pemain berkualitas di tiap lini, hanya mengantarkan Argentina hingga babak 8 besar. Berposisi sebagai tuan rumah, Tim Tango itu sudah tertatih-tatih bahkan sejak pertandingan awal grup. Bahkan pemain terbaik dunia 2009 & 2010, Lionel Messi, kembali mengulang kegagalan yang sama di Worl Cup Africa Selatan 2010, dengan tidak menceploskan satu gol pun.
Setali tiga uang, Brazil pun mengalami hal yang serupa. Tradisi juara yang mengakar tak terlihat baik di ajang ini. Walau sempat menang meyakinkan 4-2 dipertandingan akhir grup kontra Ekuador, kekalahan memalukan dari Paraguay di fase knock out dengan tidak mencetak satu gol pun dalam sesi adu penalti, membuat amnesia para penggemar bola bahwa tim yang di kapteni Lucio itu adalah juara dunia terbanyak lima kali dengan gaya permainan terkenal, Jogo Bonitonya.
Namun itulah Sepakbola. Hitung-hitungan di atas kertas sering kali berbeda dengan kenyataan. Perjuangan keras hingga detik terakhirlah yang akan menentukan hasil. Kemenangan atau kekalahan.
Pun begitu pula dengan kehidupan kita. Dalam bahasa luhur al-Quran, kehidupan dunia ini diibaratkan sebagai sebuah permainan. Ilustrasi indah itu terurai dalam satu kalam,
“Sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau.” (QS. Muhammad [47]: 36).
Ya, karena ini adalah sebuah permainan, kita tidak tahu apakah kita bisa meraih kemenangan atau kekalahan. Husnul khatimah atau su-ul khatimah. Persis seperti falsafah bahwa bola itu bulat, sangat susah ditebak hasil akhirnya. Sama seperti akhir kehidupan kita, yang baik dan buruknya juga masih rahasia Allah.
Sebagian dari kita, bisa jadi ada yang sangat bagus dalam memulai permainan. Beribadah di waktu muda, tapi tergelincir di masa tua. Lemah di detik-detik akhir hayat. Persis seperti Argentina dan Brazil, datang dengan modal yang cukup, namun gagal dalam permainan. Ada juga tim lemah, tapi malah menang, bak orang yang penuh maksiat lalu bertobat, kembali ke jalan Allah sampai akhir hayatnya.
Teringat sebuah doa;
“Allahummaj’al khaira ‘umrina akhirah, wa khaira a’malana khawatimah, wa khaira ayyamina yauma nalqaaka fih | Ya Allah, jadikan sebaik-baik umur kami di penghujungnya, dan sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, dan sebaik-baik hari, hari saat kami bertemu dengan-Mu.”
Oleh karenanya, berjuanglah dan istiqomahlah. Kita tidak tahu bagaimana akhir kehidupan kita. Masih misteri, dalam keadaan seperti apa kita menutup permainan ini, menjadi pemenang atau pecundang.
Maka belum terlambat untuk berbenah. Harapan itu masih ada. Permainan terus berlangsung. Selama peluit akhir saat sakaratul maut belum ditiup, selama itu pula kita masih berjuang. Saat hayat masih di kandung badan, Allah akan menanti kita untuk menjadi seorang pemenang. Ya, pemenang. Dan saat kemenangan itu tiba, terimalah hadiahnya. Bukan dengan tropi piala yang bisa hancur terlindas roda bis. Tapi panggilan syahdu nan menggetarkan:
“Wahai jiwa yang tenang. Kembali lah kepada Rabb-Mu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)
Wallahul Musta’an.
