Furshah Dzahabiyyah: Happy Fasting
Dikisahkan. Dalam sebuah hadits hasan. Ada tiga orang sahabat Rasulullah Saw.. Hidup bersama, berlomba dalam kebaikan dan ibadah. Suatu hari, datang panggilan untuk berjihad di jalan Allah Swt. Ketiga sahabat itu sepakat untuk memenuhi seruan mulia ini. Sampai Allah Swt. men-takdirkan dua diantara mereka meninggal dunia. Syahid dalam peperangan. Dan Allah pun men-takdirkan sahabat yang satu masih mendapatkan kesempatan hidup sampai beberapa tahun kemudian dan akhirnya meninggal tidak dalam keadaan syahid, namun terbaring di tempat tidurnya.
Setelah wafat yang ketiga, salah sahabat Rasul Saw. yang lain dan kebetulan juga teman dari tiga sahabat karib yang telah meninggal dunia itu, bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat sahabat yang wafat diatas kasur lebih dahulu masuk surga dari kedua temannya yang meninggal di medan perang. Tentu saja ia kaget. Saat terbangun, ia termenung, bertanya-tanya, kenapa orang yang wafat di atas kasur bisa lebih dulu masuk surga dari orang yang syahid fi sabillah. Padahal pahala syahid di medan perang sangat luar biasa.
Masih dengan penasaran yang membuncah, ia menceritakan mimpinya kepada Rasulullah Saw.
“Rasul, saya bermimpi tentang tiga orang sahabatku. Dua meninggal di medan perang dan yang satu lagi meninggal di atas kasur. Lalu saya melihat. ternyata yang meninggal di atas kasur, lebih dulu masuk surga di banding dua temanku yang syahid. Kenapa ya Rasulullah? Bukankah pahala meninggal di medan perang lebih besar dari selainnya? Bukannya menurut kita, semestinya dua sahabat yang gugur syahid ini lebih dahulu ke surga di banding sahabatku yang meninggal di atas kasur? Kenapa ya Rasulullah?”
“Betul,” Rasulullah Saw. menjawab. “Sungguh luar biasa pahala bagi yang syahid di jalan Allah. Tapi tahukah kamu kenapa yang satu masuk surga mendahului yang dua.”
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” ujar sang sahabat.
“Wahai sahabat, ketahuilah. Bukankah yang meninggal belakangan ini, dia masih bisa melakukan shalat-shalat yang tidak bisa dilakukan lagi oleh sahabat syahid yang telah mendahuluinya. Bukankah ia bahkan bertemu dengan Ramadan, beribadah di bulan suci itu. Shalat, puasa dan yang lainnya. Yang itu semua tidak ditemui oleh sahabatnya yang lebih dulu meninggal. Demi Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perbedaan serta jarak diantara dua keadaan sahabat itu sepertinya jauhnya antara langit dan bumi.”
Subhanallah…, kisah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan di hasan-kan oleh Imam Syu’aib al-Arnauthy ini seharusnya kembali mengingatkan kita. Bahwa pertemuan dengan bulan Ramadan adalah sebuah anugerah yang mesti di syukuri secara maksimal. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Yang hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Sungguh menjadi kebahagiaan di atas kebahagiaan, saat kita di izinkan kembali oleh Allah Swt. dapat beribadah di bulan Ramadan tahun ini. Menikmati indahnya puasa, senandung tilawah dalam halaqah-halaqah tadarus, syahdunya tarawih sembari mendengarkan tausiyah-tausiyah rabbaniyyah. Dan sangat celakah kita, bila tidak bisa mensyukuri dengan baik kesempatan berharga ini.
Ya, furshah dzahabiyyah, peluang emas. Saat dimana pahala ibadah kita dilipat gandakan oleh Allah Swt lebih dari bulan-bulan yang lainnya. Bulan dimana ruh kita melangit dengan khusyuknya.
Oleh karenanya, masih tersisa berapa hari lagi untuk sampai ke bulan Ramadan. Mari kita persiapkan diri kita sebaik-baiknya. Yang bersama keluarga, kumpulkan semua anggota keluarganya. Ajak bersama, untuk meng-agendakan kegiatan Ramadan keluarga. Dari tadaruskah itu, sedekah itu, dzikirkah itu dan yang lainnya. Yang bujangan? Tak masalah. Ada banyak teman insya Allah, yang akan bersama, berlomba-lomba untuk mengisi Ramadan ini dengan sebaik amal. Mari kita niatkan, semoga Ramadan ini adalah Ramadan terbaik selama hidup kita. Berharaplah, bila akhirnya Allah memanggil kita tahun ini, kita menghadap-Nya dengan pahala Ramadan terbaik.
“Allahumma barik lana fi Sya’ban wa ballighna Ramadan | Ya Allah berkahi kami di bulan Sya’ban dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” Amin.
Wallahul Musta’an.
