Lompat ke isi

Itsar dan El-Barca: Visca Azulgrana

Agustus 29, 2011

Beberapa hari yang lalu, Champion League Eropa edisi 2011 baru saja usai. Juaranya Barcelona. Persis seperti prediksi yang disampaikan hampir sebagian besar pengamat bola. Walau Manchester United, lawan mereka di final adalah tim yang tak kalah hebatnya, penampilan ciamik yang diperagakan sepanjang musim oleh juara Liga Spanyol itu membuat mereka diunggulkan sedikit diatas MU yang menutup Liga Inggris tahun ini juga sebagai juara.

Siapa pun, saya kira mesti mengakui kehebatan tim yang berjuluk Azulgrana itu. Permainan yang stabil hampir ditiap laga plus kerjasama apik dengan gaya bermain tiki-takanya memang benar-benar memukau. Semua lini hampir memainkan peranannya dengan baik. Melihat mereka bermain, menimbulkan rasa gembira bagi yang menyaksikannya.

Buah kerjasama. Sesuatu yang bisa kita ambil pelajaran dari perjalanan tim asal Catalan itu. Tak hanya itu, kerelaan beberapa pemain untuk mengisi pos permainan bukan di posisi idealnya, semisal Mascherano dan Busquest yang sempat menjajal posisi bek tengah saat Puyol dan Pique tak bisa bertanding, menjadi bukti keseimbangan tim yang mesti siap kapan dan dimanapun diturunkan. Dan yang paling mengharukan, tentu saja dipilihnya Eric Abidal sebagai pemain pertama yang menerima trofi piala dari Presiden UEFA, Michael Platini, yang semestinya diterima pertama kali oleh sang kapten tim, Carlos Puyol. Saat ditanya tentang hal itu, Pep Gurdiola, pelatih Barcelona mengatakan “Dia menderita kanker hati, dan sudah pasti saya bisa merasakan betapa menderitanya dia serta keluarga. Tapi semangat besarnya untuk cepat sembuh memberi inspirasi pada semua tim.”

Ya titah Gurdiola sebagai kepala tim. Kerelaan Puyol untuk mempersilahkan Abidal yang baru sembuh dan bermain ciamik di laga final menjadi bukti lain tentang kuatnya Barcelona sebagai tim yang utuh. Baik kerjasama tim dalam permainan maupun sebagai seorang teman yang memahami perasaan rekan-rekannya. Puyol bahkan mengakui bahwa Abidal adalah pemain terbaik malam itu setelah Messi dan Xavi Hernandez.

Sungguh, peran kerjasama dan keutuhan tim atau kelompok selalu menjadi salah satu faktor penting sebuah kesuksesan. Apalagi kita sebagai seorang muslim tentu mesti mengetahui itu. Nilai-nilai luhur yang dibarengi dengan kerelaan dan kebesaran hati berbagi kebahagiaan dan keutamaan dengan orang lain seringkali mengundang decak kagum bagi generasi setelahnya. Secara eksplisit, ternyata ajaran agama pun menuntun untuk itu. Teringat dengan sosok sebaik tauladan yang digambarkan dalam sebuah ayat:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin” [QS 09: 127]

Kita tentu ingat, bagaimana sejarah menceritakan tentang detik-detik akhir kehidupan Beliau, Nabi Muhammad Saw.. Saat-saat menegangkan itu beliau malah mengingat nasib para umatnya kelak.

Atau kerelaan para sahabat saat mendahulukan sahabat yang lain untuk meminum air ketika perang Tabuk. Keikhlasan Abu Bakar memberikan semua hartanya untuk jihad fi sabilillah. Lapang dadanya hati seorang sahabat yang menidurkan anak-anaknya dalam kelaparan, sedangkan ia berpura-pura makan dalam kegelapan demi tenangnya sang tamu yang sedang menyantap hidangan di rumahnya.

Ya, orang-orang yang disebutkan dalam al-Quran dengan istilah:

“Mereka itsar (mendahulukan) terhadap orang lain dibanding ke diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri kesusahan” [QS. 59: 09)

Dan sekarang, saat sifat elok itu perlahan mulai terkikis dari sebagian besar umat ini, mesti kita hadirkan kembali. Membumikan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama dalam kehidupan nyata mutlak diwujudkan. Bahkan sebuah tim sepakbola yang bisa jadi tak pernah mengenal perjalanan nabi dan para sahabat pun melakukan itu. Kita tentu lebih berhak untuk mencontohkan yang jauh lebih mulia. Kisah orang-orang shalih sebelum kita adalah sesuatu yang sangat layak untuk dijadikan tauladan. Dan tentu saja, hikmah pelajaran itsar yang tergambar dari perjalanan dan penyerahan trofi juara Barcelona turut menambah khazanah kita tentang indahnya itsar. Semoga. Visca, Azulgrana!

Wassalam

2 Komentar leave one →
  1. September 18, 2011 3:16 am

    berkunjuuungg…. :D

    lama ga main ke rumah ini, hehehe

  2. windowijaya permalink*
    November 5, 2011 2:42 am

    Hehe, tak payah pun. Jarang update.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.