Lompat ke isi

Risalah from KL [1]: Marhaban (Part I)

November 5, 2011

Bismillah. Ini the first note yang kugoreskan di tanah Malaysia. Senang sekali rasanya bisa kembali datang ke negeri ini. walhamdulillah, ala kulli hal.

Penerbangan kali ini agak sedikit berbeda dengan penerbanganku sebelumnya ke tempat yang sama. Tepatnya Januari 2011 yang lalu, aku mesti ke Jakarta terlebih dahulu, untuk bisa terbang ke Kuala Lumpur. Sekarang tidak perlu lagi jauh-jauh ke Ibukota, karena di Palembang sudah dibuka kembali untuk penerbangan ke Kuala Lumpur. Masih dengan maskapai yang sama, Air Asia. Pesawat yang sekilas mirip dengan Lion Air dari sisi interior pesawat. Warna merah yang mendominasi sangat kentara. Penerbangan Air Asia bagiku sangat pas. Murah. Meriah. Hari-hari biasa, dan dipesan sekitar 2 sampai 3 bulan sebelum keberangkatan, Palembang-Kuala Lumpur, harga tiket bisa kita beli di kisaran 300-400 ribu rupiah. Wau…, walau dekat, dengan jarak tempuh lebih kurang 1 jam 20 menit, harga seperti itu masih sangat murah untuk sebuah penerbangan internasional. Hanya perlu diingat, Air Asia tidak menyediakan bagasi langsung layaknya penerbangan lainnya. Tapi bila mau, kita bisa bayar tambahan untuk bagasinya. Lagi-lagi masih bisa dijangkau. Seperti aku, pesan bagasi 15 kg = Rp 110.000,-

Disini perlu kecermatan kita dalam perencanaan bagasi yang akan dibawa. Karena bila over weight, siap-siap saja membayar dengan jauh…jauh lebih mahal. Seperti kejadianku kemaren. Waktu pesan pertama kali, masing-masing bersama istri, kami pesan 15 kg. Total 30 kg. Perkiraan awalku dan belajar dari penerbangan pertamaku kesini, jumlah itu mencukupi. Tapi aku melupakan satu hal, bila penerbangan dulu dengan tujuan melancong, yang tentu saja tak terlalu banyak membawa barang, penerbangan kali ini tujuan belajar dan menetap untuk bilangan bulan, bahkan tahun. Barang yang dibawa jauh lebih banyak. Hasilnya pun kelihatan, barangku over weight sampai 10 kg. Dan per kg, di cash sebesar Rp 125.000,00. Sempat terpikir untuk mengurangi barang bawaan, tapi setelah dirasa, semuanya perlu dan penting, sudah bayar saja. So, pelajaran yang bisa diambil, cermatlah dalam memperkirakan bagasi, bila tidak mau membayar lebih banyak.

Tidak ada kesulitan berarti yang kutemui di Bandara SMB II. Imigrasi alhamdulillah dilalui dengan lancar. Sempat ketar ketir juga awalnya. Karena status keberangkatanku yang social visit, berbeda dengan isteri yang sudah membawa surat keterangan kuliah. Biasanya kita yang social visit (baca: melancong) selalu ditanya tiket kembali ke Palembangnya. Social visit ini hanya berlaku 30 hari. Mungkin, mereka khawatir bila tanpa tiket kembali yang jelas, kita akan terus menetap di Malaysia tanpa visa. Ilegal, lah. Tapi, kembali walhamdulillah. Dengan sedikit penjelasan dan diplomasi singkat, bahwa kepergianku ini untuk menemani isteri yang akan kuliah, semuanya berlalu dengan baik. Kesan yang bersahabat (senyum dan mengucap salam lewat lubang kecil di antara lebarnya kaca) yang coba kutampilkan memang terasa sangat membantu :)

Oh ya, perlu juga kusampaikan bagi yang belum mengetahui. Bahwa penerbangan kemanapun ke luar negeri, tidak diperlukan lagi pembayaran viscall. Juga tidak perlu ada NPWP untuk meraih bebas viscallnya. Per Januari 2011, oleh Dirjen Perpajakan RI semuanya telah dihapuskan. Untuk negera ASEAN, kita juga tidak dikenakan biaya visa kunjungan. So, bila ada yang mau melancong, rihlah, studi banding, honey moon dll ke Malaysia, Singapura dan negara ASEAN lainnya, cukup siapkan tiket dan paspor saja. Insya Allah bisa terbang.

Continued….

Pantai Hillpark, Kuala Lumpur Senin, 05 September 2011 Pkl 06.15 AM.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.