Risalah from KL [2]: Marhaban (Part II)
Bismillah…
Tulisan ini adalah lanjutan. Oh ya, kusampaikan di tulisan sebelumnya, bahwa sejak awal tahun 2011 ini tadi, telah dihapuskan biaya viscall untuk semua tujuan ke luar negeri. Tinggal mikirkan visanya saja. Dan untuk kawasan Asia Tenggara, visa kunjungan pun tak dipungut biaya sepersepun. Jadi tak heran, bila kita banyak menemukan orang Indonesia pergi ke Singapura sekedar untuk berbelanja. Lepas itu, pulang kembali ke Indonesia. Bahkan terakhir pernah kubaca, saat beberapa film hollywood di cekal di bioskop Indonesia, beberapa agen perjalanan, membuat program paket penerbangan ke Singapura hanya untuk menonton film di bioskop. Ya, menonton. Sebaliknya juga begitu, salah seorang saudaraku di Bandung mengabarkan, tiap akhir pekan, banyak Pak Cik dan Mak Cik yang terlihat shopping di beberapa toko terkenal di sana.
Saat libur kompetisi sepakbola Juni-Juli yang lalu pun sama. Beberapa penggemar fanatik dari Indonesia, yang kebetulan tim kesayangannya mengadakan tour pra musim ke Negeri Jiran Malaysia, tinggal menyisihkan uang untuk tiket pesawat, sampai sudah mereka di Kuala Lumpur.
Banyak sekali alternatif penerbangan ke Kuala Lumpur. Aku yang mahasiswa, tentu saja sangat pilih-pilih dalam hal ini. Dan untuk saat ini, pilihan itu mengerucut ke penerbangan mana yang paling murah biayanya
Dua kali perjalananku ke Kuala Lumpur, dua-duanya via Air Asia. Hemat, fasilitas tidak mengecewakan. Yang perlu di perhatikan, untuk mendapatkan harga yang relatif murah, kita dapat memesan jauh-jauh hari untuk waktu penerbangan yang telah kita pastikan. Ya, 2-3 bulan sebelum perencanaan terbang lah. Akan banyak penawaran promo price yang menarik. Misal ketika tulisan ini dibuat, tertanggal 14/09/2011, bila aku ingin pulang kampung, sekedar menengok orang tua di tiga bulan kedepan, 15/12/2011, maka harga untuk destination Kuala Lumpur-Palembang tertera adalah 94.00 MYR atau Rp 270.156,00 (kurs 1 MYR=Rp 2.874,00). Masih bisa dijangkau kan? Harga akan sangat cepat berubah, seiring semakin dekatnya dengan hari penerbangan. Terlambat, bisa menyebabkan harga akan naik dari yang kita lihat sebelumnya. Disamping itu, seperti yang kutulis sebelumnya, perkiraan bagasi yang akan kita bawa mesti juga diperhatikan. Untuk lebih jelas terkait Air Asia, sahabat bisa melihat ke webnya disini, www.airasia.com
Ada satu cerita lagi yang belum sempat kuceritakan di bagian pertama yang lalu. Layaknya penerbangan-penerbangan lainnya, biasanya untuk bawaan kabin, salah satu yang dilarang adalah membawa segala bentuk cairan yang lebih dari 100 ml. Apapun itu. Saat berangkat kemaren, persis dibelakangku, ada satu ibu yang mesti merelakan kotak kecil yang telah dibungkus rapi, untuk kemudian disita isinya, yang ternyata salah satunya adalah berisi cuka pempek. Kabar akhir, ibu ini mesti membayar lagi untuk biaya cuka itu. Mikir-mikir, dari pada makan pempek tak bercuka
Untukku, entah mesti mengucap apa. Karena barang yang over weight, ada satu kotak kecil, yang jelas-jelas tidak kubungkus, dan nampak kali kelihatan label salah satu toko pempek terkenal (dan isinya betulan pempek berikut cuka dengan bau yang cukup menyengat). Hanya diikat dengan sedikit tali sebagai pegangan, lolos dan tidak disita oleh petugas. Hanya mengucap syukur, wal hamdulillah. Niat pun pempek ini sebagai hadiah dan oleh-oleh untuk keluarga disana. Lain itu, dua botol madu yang masing-masing berukuran lebih dari 100 ml, sempat dikeluarkan dan mau disita oleh salah seorang petugas yang masih muda. Lagi-lagi dengan sedikit lobi dan beralasan untuk obat, madu itu pun terselamatkan dan dipersilahkan untuk dibawa setelah diizinkan oleh petugas yang lebih tua. Tanpa membayar sepeserpun. Kembali, wal hamdulillah.
Baiknya memang dan untuk amannya, saya sarankan, semua jenis cairan dibungkus rapi dan dimasukkan ke bagasi.
Continued….
Pantai Hillpark, Kuala Lumpur, Rabu 14 September 2011 Pkl 06.50 PM.
