Lompat ke isi

Risalah from KL [3]: Marhaban (Part III; The End)

November 5, 2011

Bismillah…

Ini tulisan terakhir dari tiga rangkaian Risalah From KL dengan judul ‘marhaban.’ Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan terkait penerbangan, bandara dan hal ihwal bila kita melakukan penerbangan perdana ke Kuala Lumpur. Tapi semoga, hal lain itu bisa aku sisipkan di rangkaian tulisan Risalah from KL berikutnya. Karena banyak sekali kejadian-kejadian waiting list untuk dituliskan.

Di Kuala Lumpur, ada 2 bandara masyhur yang di kenal. Pertama, Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA). Yang kedua Low Cost Carrier Terminal (LCCT). Ada perbedaan mendasar diantara keduanya. LCCT, sudah mafhum bagi orang yang sering bolak-balik di bandara ini, bahwa ia adalah bandara khusus untuk parkirnya pesawat Air Asia. Oleh karenanya, dua kali perjalananku ke Kuala Lumpur, selalu saja ke sini. Karena kedua penerbanganku itu semuanya memakai servicenya Air Asia. Namanya juga Low Cost Carrier Terminal atau airport murah, tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan airport yang kusebut pertama, KLIA. Aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki di KLIA, namun dari informasi yang dapat kita temukan dengan sangat mudah di internet, airport ini sungguh sangat mewahnya. Para sahabat yang pernah tahu tentang airport ini, bahkan sudah pernah mendaratkan kakinya disana, bolehlah berbagi cerita….

Lain itu, yang kutahu, KLIA adalah bandara komersial bila dibandingkan misalnya dengan LCCT yang secara khusus sebagai airportnya Air Asia saja. Bila kita ke Kuala Lumpur naek pesawat Garuda, Lion Air atau juga yang lainnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa pesawat-pesawat itu tidak akan mendarat di LCCT, tapi KLIA.

Secara pribadi, aku tidak terlalu mempermasalahkan di mana pesawat bakal mendarat. Selain tentu saja, seperti yang pernah ku bilang, bahwa tiket Air Asia jauh lebih terjangkau bagiku dibanding maskapai yang lainnya. Lain itu, sejak awal 2011, setelah sempat terputus hampir satu tahun lebih, Air Asia kembali membuka rute langsung Kuala Lumpur – Palembang dan sebaliknya. Bagiku yang asli Palembang, tentu saja ini sangat membantu. Tidak perlu susah payah berangkat ke Jakarta terlebih dahulu, untuk kemudian berangkat ke Kuala Lumpur. Tinggal menyetir mobil lebih kurang 15 menit dari rumah, maka sampailah sudah di Bandara Sultan Mahmud Badaraddin II yang akan menghantarkanku ke Negeri Jiran itu.

Setibanya di LCCT, setelah kita turun dari pesawat, kita akan dihantarkan dulu ke ruangan imigrasi. Disana kita akan diperiksa dokumen perlengkapan (Pasport, tujuan kedatangan, etc.). Kepergian kedua ku kali ini, tentu saja statusnya sebagai pelancong, dengan niat menemani isteri yang secara resmi telah diterima di salah satu universitas di Malaysia. Tak terlalu banyak kendala yang dihadapi di imigrasi, Alhamdulillah. Namun antrinya, Subhanallah. Berbaris lebih kurang 10 putaran meliuk yang dari awal masuk antrian sampai menghantarkanku ke jendela pemeriksaan memakan waktu sampai 2 jam. Bisa jadi, karena sedang arus balik lebaran. Entahlah kalau di hari yang lain…

Setelah mengambil bagasi, sebelum pintu keluar terakhir, ternyata masih ada satu pemeriksaan lagi. Waktu itu, isteriku tidak sadar bahwa ia dipanggil. Aku yang berjalan belakangan, dengan sedikit memekik, memberitahu bahwa kita disuruh menghadap. Kulihat beberapa penumpang lain lewat saja. Cepat aku berpikir, pasti ada yang ingin diperiksa. Kulihat barang bawaanku. Dari 2 koper, 1 tas besar dan 2 kardus yang kubawa, ternyata petugas meminta kami untuk membuka bagian kardus. Kulihat, beberapa penumpang mengalami kejadian yang sama. Sebelum di buka, ditanya terlebih dahulu apa isinya sembari menunjuk satu kardus yang lebih kecil. Aku menjawab, “isinya pakaian.”

“Buka!” perintahnya. Sempat kujelaskan lebih rinci tentang isinya, tapi petugas ngotot untuk minta dibuka. Bukan apa-apa, kardus itu sudah kukasih lakban berlapis-lapis berikut ikatan tali nilonnya. Dibuka, dan betulan isinya pakaian. Sembari dia periksa, aku bantu menjelaskan bahwa kedatanganku dan istri ke Malaysia adalah dalam rangka study. Dengan cepat, aku tahu, bahwa pemeriksaan terakhir ini adalah untuk memastikan bahwa barang yang dibawa dari Indonesia bukanlah barang yang akan di jual lagi di Malaysia. Bila itu ada, tentu saja mereka rugi, karena tidak pakai bea cukai. Sambil terus memeriksa, dengan ramah, petugas muda berjilbab itu bertanya-tanya tentang rencana studi kami. Di tengah percakapan, sempat kudengar teriakan sambil jalan dari petugas lelaki yang agak tua, “itu pakai bea cukai,” saat ditemukan sekitar 2 helai baju baru. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, pun begitu juga dengan petugas berjilbab yang memeriksa, karena dia telah ku kasih tahu, bahwa 2 baju itu untuk kupakai sendiri, bukan untuk dijual lagi. Emang tukang kredit (edisi ingat Umak, beli barang untuk jual lagi :) )

Setelah kardus berisi pakaian itu selesai diperiksa, petugas mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan. Dalam hati aku mengucap banyak syukur, karena kardus satunya yang jauh lebih besar, tidak diperiksa. Bukan apa-apa, isinya memang bukan barang jualan. Tapi satu kardus itu full berisi tupperware kesayangan istriku. Semuanya baru-baru, lengkap dengan bungkus-bungkus plastiknya. Sebagian besar hadiah kenang-kenangan dari Ibu-ibu DPW Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) Kuala Kencana, Papua (terimakasih ya :) ). Bila itu dibuka, tentu aku butuh waktu dan banyak cara untuk berhasil meyakinkan petugas. Itu pun bila mereka percaya, karena nanti tupperware yang baru-baru itu, lengkap dengan segala bungkus plastik dan berbagai ukurannya, akan menguatkan ini adalah barang baru, barangnya banyak, bisa jadi untuk dijual. Semuanya bantuan Allah, insya Allah. Karena tadi sudah capek antri imigrasi, jadi tidak disuruh capek berikutnya, wa Alhamdulillah (bab Husnudzhon dengan Sang Khalik :) )

Oh ya, terakhir, saya tidak menyarankan Anda untuk menukar uang di money changer bandara dalam jumlah banyak. Karena nilai tukarnya lebih mahal di banding kita tukar di luar bandara. Tukar saja seperlunya, sekiranya Anda perlu makan di bandara, atau sekedar membeli kartu perdana setempat untuk handphone Anda.

Marhaban fi Kuala Lumpur…..

Pantai Hillpark, Kuala Lumpur, Sabtu 17 September 2011 Pkl 11.45 PM.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.